Ingin Tahu Sejarah Tembakau? Yuk Kunjungi Kampung Edukasi Mbako di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo Temanggung

oleh
TEMBAKAU. Salah seorang petani tembakau sedang memberikan pemahaman tentang tembakau kepada pengunjung di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo, Rabu (15/12) (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)
TEMBAKAU. Salah seorang petani tembakau sedang memberikan pemahaman tentang tembakau kepada pengunjung di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo, Rabu (15/12) (Foto:setyo wuwuh/temanggung ekspres)

TEMANGGUNG, MAGELANGESKPRES.COM – Petani tembakau di Desa Tlilir Kecamatan Tlogomulyo menggagas Kampung Edukasi Mbako (tembakau). Kampung ini akan menyuguhkan sejarah, jenis dan serba-serbi tembakau di lereng Gunung Sumbing.

Kampung Mbako ini akan menjadi salah satu wisata edukasi di Kabupaten Temanggung, di mana pengunjung bisa mengetahui proses pengolahan tembakau dan jenis atau varietas tembakau yang selama ini dibudidayakan oleh petani setempat.

“Ini baru pertama di Temanggung, bahkan mungkin di Indonesia,” ungkap Kepala Desa Tlilir, Faturohman, Rabu (15/12).

Ia mengatakan, Desa Tlilir merupakan salah satu sentra penghasil tembakau di Temanggung, bahkan tembakau srintil, yang mana menjadi tembakau kualitas terbaik dunia juga dihasilkan dari petani di Desa Tlilir.

“Temanggung memang kabupaten penghasil tembakau, namun tidak semua desa atau daerah menghasilkan tembakau dengan kualitas terbaik, maka dari itu wisata edukasi ini kami namai wisata edukasi kampung mbako,” tuturnya.

Ia menjelaskan, di Kampung Edukasi Mbako sendiri akan disuguhi museum tembakau, di museum tersebut akan dipajang berbagai tembakau asli hasil olahan petani, alat-alat untuk pengolahan tembakau dan berbagai barang lainnya yang berkaitan dengan tembakau.

Menurutnya, tembakau mempunyai sejarah panjang, mulai dari pengolahan, varietas atau jenis, musim dan harga jual tembakau di setiap musimnya, sehingga sejarah ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

“Saat tanam ada tradisi khusus, saat pengolahan juga menjadi salah satu objek wisata edukasi, karena tidak semua masyarakat mengetahui proses pengolahan tembakau apalagi tembakau srintil,” tuturnya.

Faturohman mengaku, gagasan untuk membuat kampung tembakau ini muncul dari petani, dengan gagasan ini ke depan diharapkan bisa menjadi salah satu upaya peningkatan kesejahteraan petani.

Karena menurutnya, ke depan tidak menutup kemungkinan akan banyak wisatawan yang berkunjung ke Desa Tlilir untuk berwisata. Dengan demikian tembakau tidak hanya dijual ke pabrikan saja namun juga bisa sebagai buah tangan, tentunya dengan harga jual yang lebih baik.

“Kita berusaha mandiri, ke depan masyarakat bisa menikmati proses dan hasilnya,” katanya.

Sementara itu Wahyono salah satu petani tembakau menuturkan, sejak dilahirkan sampai saat ini masih setia menjadi petani tembakau, dari tembakau dirinya sudah bisa menyekolahkan anak hingga menjadi perawat dan pegawai bank.

Namun lanjutnya, baru kali ini ada gagasan menjadikan mata pencahariannya sebagai petani tembakau sebagai objek wisata edukasi.

“Ternyata tidak banyak yang mengetahui proses pengolahan tembakau, apalagi tembakau srintil seperti di desa kami,” tuturnya.

Sebelum kampung tembakau ini digagas, sudah banyak pengunjung dari luar daerah yang penasaran dengan tembakau srintil, karena kualitas dan harga jualnya.

“Sehabis panen raya biasanya ada pengunjung datang untuk membeli tembakau srintil, meskipun hanya satu ons sampai satu kilogram, tapi mereka membeli dengan harga yang cukup bagus,” katanya.
Ia berharap, ke depan dengan adanya kampung tembakau ini, masyarakat khususnya petani tembakau bisa semakin meningkat kesejahteraannya. (set)

No More Posts Available.

No more pages to load.